Masjid Al-Mukarromah terletak di jalan arif margono gang masjid yang berada di wilayah kelurahan kasin kecamatan klojen kota Malang.
Masjid Al-Mukarromah tidak hanya menjadi tempat salat dan beribadah semata. Dari sejarahnya, masjid Al-Mukarromah juga menjadi jujukan bagi pejuang Laskar Hizbullah. Keberadaan makam Mbah Jalalain atau Pangeran Fadluddin dari Banten kian menegaskan masjid Al-Mukarromah memiliki sejarah panjang.
Masjid tersebut dulunya memang menjadi markas Laskar Hizbullah. Namun, bangunan masjidnya kala itu masih kecil (sebuah surau/langgar), tidak seperti yang terlihat saat ini.
Masjid Al-Mukarromah kasin kota Malang diperkirakan telah berdiri lebih dari seabad. Sebab, di depan masjid terdapat makam Pangeran Fadluddin atau biasa disebut Mbah Mohammad Djalalain asal Banten. Sosok ulama tersebut diyakini masih ada garis keturunan dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.
Meski tak memiliki dokumen pendukung, keberadaan surau yang menjadi cikal bakal masjid sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Hal itu juga didukung perkembangan Islam di sekitar surau/langgar yang semakin kuat dengan berdirinya pondok pesantren. Nah, salah satu yang mengasuh adalah Kiai Abdul Mukti sejak zaman dulu menjadi jujukan para pejuang bangsa Indonesia. Karena itulah, surau/langgar tersebut sempat dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah. Beberapa tokoh besar pun juga pernah datang ke Masjid Al-Mukarromah, seperti Bung Tomo juga pernah ke sini.
Sebelum pertempuran 10 November 1945, semua anggota Laskar Hizbullah digembleng Kiai Abdul Mukti di sini. Mereka bergabung dengan para pejuang lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Seiring dengan perkembangan agama Islam yang semakin pesat, bangunan surau yang tidak menampung jumlah jamaah, lalu dipugar untuk diubah menjadi masjid. Proses pemugaran total itu sekitar 1995–1997. Masjid diresmikan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat masih menjabat ketua umum PB NU.
Meski sebagai masjid sekaligus monumen para Laskar Hizbullah, tapi tidak ada banyak yang menonjol dari konstruksinya. Semua dibangun sesuai kebutuhan, tidak ada filosofinya secara khusus.
Bangunannya sudah cukup modern, dengan luas 12×12 meter. Terdiri dua lantai dengan menara yang cukup besar dengan tinggi sekitar 41 meter. Di bagian dalam, kubah masjid dilukis layaknya langit. Dengan perpaduan warna dinding hijau muda menambah suasana semakin sejuk.
Konstruksi masjid terlihat kokoh, dengan empat tiang cor yang dibalut kayu berwarna cokelat dan lampu gantung dari kaca. Hal itu membuat kesinambungan interior terlihat indah. Setiap hari banyak yang berkunjung ke masjid Al-Mukarromah ini. Mulai dari niat i'tikaf, mengaji, istighotsah hingga berziarah ke makam Mbah Muhammad Djalalain atau Pangeran Fadluddin dari Banten.
Majelis taklim juga istiqomah dijalankan di masjid ini. Mulai rutinan ngaji ba'da shalat maghrib, istiqhotsah, pembacaan maulid diba' dan maulid Ad dalaail khairat hingga mengaji malam hari mulai jam 21.00 sampai sekitar jam 02.00 dini hari.
Masjid Al-Mukarromah juga mendirikan pendidikan islam yang dinamakan Taman Pendidikan Islam atau disingkat TPI. Waktu proses pembelajarannya mulai jam 16:00 sampai jam 20:00 dengan materi pelajaran antara lain Al-Qur'an, hadits, fiqih, bahasa arab, nahwu, shorof dan beberapa materi lain salah satunya bahasa inggris.
Masjid Al-Mukarromah juga mendirikan pendidikan islam yang dinamakan Taman Pendidikan Islam atau disingkat TPI. Waktu proses pembelajarannya mulai jam 16:00 sampai jam 20:00 dengan materi pelajaran antara lain Al-Qur'an, hadits, fiqih, bahasa arab, nahwu, shorof dan beberapa materi lain salah satunya bahasa inggris.
Maka dari itu, silahkan berkunjung ke masjid Al-Mukarromah dan makam Mbah Muhammad Djalalain atau Pangeran Fadluddin. Takmir masjid dan para masyarakat sekitar dengan ramah akan melayani.
Moto kami "HIDUPKAN MASJID DALAM HIDUPMU".




Tidak ada komentar:
Posting Komentar